one fine day

haratakana-1499660689971

bagiku rindu adalah keseharian. jika kehidupan adalah sekolah maka kau bayangkan rindu seperti jam pelajaran yang bergantian di kelas sepanjang hidupmu. aku kembali ke meja dimana ada beberapa buku dan serakan pensil, pena, mangkuk juga cangkir-cangkir kopi di sana. kau duduk dengan dress ajaib bermotif bunga tapi kau sebut itu batik, menggoyang-goyangkan kepala lalu memperhatikanku bercerita dengan dua pupilmu yang berjuang agar tampak penuh di mata. sesekali mengangguk, sesekali menendang-nendang kakiku lalu sekilas kuperhatikan alis yang tak sama kanan-kiri yang tumbuh di wajahmu. aku berencana makan sedikit hari itu. tetapi barulah ketahuan akulah si makan banyak setelah makananku sendiri kuhabiskan dan berlanjut dengan cecaran potongan tekwan yang terus menerus mengisi mangkukku. aku pulalah si tukang tertawa sendiri bahkan ketika tak satupun hal lucu terlontar dari percakapan kali itu. namun kau yang biasanya risih ketika ku tatap, bahkan sejak pertama bertemu membiarkanku melakukannya. Continue reading

tersenyumlah, karena Tuhan adalah sebaik-baik perencana, dan Dia Maha Sempurna

Malam ini, dengan diawali sebuah senyuman sederhana dari hati, mencoba bercerita tentang kisah sehari ini yang akhirnya aku simpulkan dengan senyuman tadi.

Sekelompok manusia, sebentuk makhluk yang dikatakan memiliki derajat tertinggi dibanding makhluk Tuhan lainnya, hari ini memiliki beberapa kisah. Ada cerita tentang seorang teman yang beberapa saat sebelumnya memiliki rencana finansial untuk kenyamanan hidupnya ingin ini dan itu dan tiba-tiba sekarang dalam keadaan tanpa memiliki pekerjaan lagi karena alasan perampingan karyawan di kantornya. Terlihat resah dan putus asa, menggerutu merasa dia bekerja dengan benar dan berhak untuk dipertahankan karena prestasi kerjanya. Ada pula kisah tentang seseorang yang biasanya selalu terlihat ceria dan tertawa sepanjang hidupnya walaupun dirinya memiliki berbagai masalah yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Itu mungkin hanya bagaimana kita membawa diri kita menyikapi masalah tersebut Nas, begitu katanya ketika aku tanya kenapa bisa selalu ceria. Toh dengan bersedih, masalah juga tak akan selesai dengan sendirinya bukan? Iya, jawabku. Tapi hari ini aku lihat dia seperti seseorang yang lelah, exhausted, seakan menyerah dan tak kuat lagi menghadapi masalahnya. Semua keceriaan dan senyum itu hilang, berubah menjadi pandangan kosong dan mulut membisu tetapi di saat bersamaan pikirannya mungkin tengah bekerja keras bertarung tentang keadilan Tuhan. Continue reading

Honor Is All We Know

Rancid_Honor_Is_All_We_Know_Album_Artwork

RANCID – HONOR IS ALL WE KNOW (2014)

ALBUM REVIEW

Ketika personil band sudah memiliki nama besar sendiri, fans mungkin merasa “Oh, Rancid udah lama gak ada, Indestructible mungkin album terakhir mereka yang lumayan, not so good but not that bad too. Bagaimana dengan album Let The Dominoes Fall? Ah sudahlah, berasa album selingan, sedikit membosankan.”

Iya, mereka ada benarnya ketika melihat ketiga personil utama mereka punya side project masing-masing dan menjadi frontman band baru mereka. Lars dengan Lars Frederiksen & The Bastard, Matt Freeman dengan Devil’s Brigade, dan tentu saja Tim yang punya segudang project dengan The Transplants, Tim Timebomb atau kesibukannya sebagai penulis lagu serta produser untuk Pink dan Gwen Stefani bahkan sempat memenangkan Grammy ketika berkolaborasi dengan Jimmy Cliff. Jadi apalagi yang mereka cari? Mungkin mereka sudah bosan. Ha!

Continue reading